cw/kissing/typos/read slowly pls.
Hari kedua kegiatan penyambutan mahasiswa baru akhirnya sampai di penghujung acara. Sejak pagi kawasan bumi perkemahan yang disewa oleh BEM fakultas itu dipenuhi ratusan mahasiswa baru dengan atribut PKKMB yang masih lengkap menempel di badan mereka. Lapangan yang sejak pagi ramai oleh suara yel-yel, instruksi panitia, dan tawa peserta kini mulai lengang.
Matahari perlahan turun ke balik deretan pepohonan di sisi venue, meninggalkan semburat jingga yang memantul di tenda-tenda kegiatan yang sedang dibongkar.
Sejak pagi Melky hampir tidak memiliki waktu untuk istirahat. Sebagai Ketua Divisi Humas, namanya dipanggil dari berbagai arah sepanjang hari. Urusan memastikan tamu undangan yang hadir, penyambutan tamu yang diundang, koordinasikan peserta dan semuanya terasa datang bersamaan. Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak kemarin — Haven.
Hubungan mereka memang tidak bisa dibilang buruk. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kata-kata kasar yang saling dilontarkan. Namun sejak beberapa hari lalu, ada jarak yang terasa begitu jelas di antara keduanya. Jarak yang muncul akibat kesalahpahaman, kecemburuan, dan banyak hal yang tidak sempat dibicarakan dengan baik. Hari ini, Melky tidak ingin pulang sebelum ia membereskan semuanya.
Di sisi lain, Haven datang sendirian ke lokasi acara PKKMB ini dilaksanakan dan alasan dirinya sederhana, ia ingin melihat sendiri.
Beberapa hari terakhir pikirannya tidak tenang. Sheyla. Teman satu divisi humas dengan Melky, sudah lama ini ia perhatikan. Namanya kerap muncul di cerita Melky, terlalu sering mereka harus koordinasi tugas berdua dan Haven ingin tahu seperti apa sebenarnya hubungan antar ‘partner’ divisi itu kalau dilihat langsung. Bukan untuk menciptakan masalah, ia hanya ingin tahu.
Sore hari tiba lebih cepat dari yang Melky sadari. Setelah melakukan evaluasi singkat dengan seluruh panitia, perlengkapan acara mulai dibereskan satu per satu. Sehabis itu, panitia lainnya mulai meninggalkan lokasi kegiatan. Beberapa pulang berkelompok, sebagian lain masih sibuk mengobrol, sebelum benar-benar membubarkan diri.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Haven mengirimkannya lokasi. Melky langsung bergegas mencari keberadaan Haven, tidak butuh waktu lama.
Begitu melihat wajah Haven dari kejauhan, langkahnya sedikit melambat. Haven berdiri membelakangi keramaian, wajahnya mengarah entah ke mana.
Saat menyadari seseorang berdiri di belakangnya, Haven membalikkan tubuhnya. Netra keduanya bertemu sebentar sebelum Haven mengalihkan pandangan.
Melky bisa melihat wajah Haven yang terlihat lelah, kantung matanya sedikit lebih jelas dari biasanya, sementara ekspresinya datar seolah energi yang ia miliki sudah habis sejak beberapa jam lalu. Ia rindu sekali.
“Ven..”
Satu kata keluar dari mulut Melky dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. Haven tetap tidak bergerak. Bahunya sedikit menegang, Haven jelas mendengar tetapi ia memilih untuk tidak merespons.
Hening sebentar. Angin malam bergerak pelan di antara mereka.
“Mel.. apa selama ini gue kelihatan gak cinta ya sama lo?” Haven akhirnya buka suara.
Matanya kembali bertemu dengan mata Melky tapi hanya sedetik, sebelum ia memalingkan wajah ke samping. Rahangnya mengeras sedikit. Melky bisa melihat otot di pipi Haven bergerak, tanda bahwa Haven sedang menahan sesuatu.
Melky masih diam, ia tidak menekan Haven. Ia berikan ruang untuk Haven dan perasaannya. Hingga detik demi detik berlalu terasa lebih panjang dari yang seharusnya.
Haven akhirnya berbicara, suaranya keluar pelan dan terdengar lebih berat dari yang seharusnya untuk sesuatu yang singkat.