Sejak kemarin semuanya terasa aneh.

Haven memang tidak benar-benar menjauh secara terang-terangan, tapi Melky cukup mengenalnya untuk sadar kalau ada sesuatu yang berubah. Balasan chat Haven jadi lebih lambat, jawabannya singkat, dan lelaki gemini itu beberapa kali seperti sengaja menghindari percakapan terlalu lama dengannya. Padahal biasanya, seberapa lama pun mereka ribut, Haven tetap akan muncul lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi kali ini berbeda dan itu berhasil membuat Melky gelisah setengah mati.

Sepanjang hari pikirannya terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Naka padanya. Naka bilang kalau Haven sempat berdiri diam dari kejauhan, melihat dirinya bersama Sheyla sebelum akhirnya pergi begitu saja. Waktu itu Melky tidak sadar akan kehadiran Haven karena acara sedang berjalan dan pikirannya bercabang ke mana-mana. Namun setelah semuanya selesai dan Haven berubah sedingin ini, Melky mulai menghubungkan semuanya perlahan.

Mungkin memang itu penyebabnya.

Sore hari ini, setelah menyelesaikan urusan kampusnya, Melky duduk cukup lama di atas motor sambil memandangi titik lokasi Haven di layar ponselnya. Find My milik mereka masih tersambung sejak lama, awalnya hanya untuk iseng dan alasan keamanan kalau salah satu mereka pulang malam dan sekarang tanpa perlu bertanya pun Melky tahu Haven sedang berada di sebuah Kafe yang tidak jauh dari rumahnya.

Melky memutuskan untuk mendatangi Haven, namun ia tidak langsung masuk ke dalam Kafe. Dari seberang jalan, Melky bisa melihat samar siluet Haven yang duduk dekat jendela sambil menatap layar laptopnya. Sesekali Haven mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi kecil sebelum kembali mengetik. Pemandangan sederhana itu justru membuat hati Melky terasa semakin penuh.

Sudah berapa lama dirinya memperhatikan Haven seperti ini?

Waktu berjalan pelan hingga langit mulai gelap. Lampu jalan menyala satu per satu, memantul di jalanan. Beberapa pengunjung Kafe mulai keluar, sementara Haven akhirnya terlihat membereskan barang-barangnya. Laptop dimasukkan ke dalam tas, earphone dililit asal, lalu lelaki itu berdiri sambil menarik hoodie-nya sedikit lebih rapat karena udara malam mulai dingin.

Melky langsung mematikan layar ponselnya dan turun dari motor.

Haven baru saja berjalan beberapa langkah menjauhi Kafe, seketika lengannya tiba-tiba ditarik pelan. Haven refleks menoleh cepat, dan ekspresinya berubah sesaat saat melihat siapa yang berdiri di depannya.

Melky.

Tatapan Haven sempat goyah sepersekian detik sebelum wajahnya kembali datar.

“Lo ngapain disini?” tanyanya singkat.

Melky tidak langsung menjawab, tangannya perlahan melepas lengan Haven, tapi ia tetap berdiri di depan Haven seolah takut Haven pergi lagi kalau dirinya lengah sedikit saja.

“Kita harus ngobrol,” katanya akhirnya.

“Tapi guenya gak mau ngobrol sama lo.”

Please? Sebentar aja.”

Nada suara Melky tidak keras, tapi cukup tegas untuk membuat Haven menghela napas kesal sebelum akhirnya mengikuti langkahnya ke sisi belakang Kafe. Tempat itu jauh lebih sepi dibanding bagian depan, hanya ada beberapa kursi kayu dengan lampu temaram menggantung di atasnya dan suara kendaraan samar dari jalan raya.